Batik Sri kuncoro :
Hampir setiap daerah
dan pulau di indonesia memiliki wisata alam, wista kuliner maupun wisata seni
budaya yang menakjubkan. Pastinya terdapat sejarah yang berbeda pada setiap unsur
didalamnya. Sama halnya dengan kekayaan budaya dan seni yang ada di kota Yogyakarta.
Seperti batik yang satu ini, mempunyai
khas dan keunikan tersendir. Pembuatan batik di Sri Kuncoro berbeda
pada pembuatan batik pada umumnya. Hal ini dikarenakan pembuatan batik Sri Kuncoro ini, penggunaan warnanya
menggunakan bahan-bahan organik. Pada umunya kain batik dibuat menggunakan pewarnaan sintetis. Bahan dasar pewarnaan batik Sri Kuncoro ini berasal dari alam, jadi sangat aman
digunakan, dan tentu juga, proses pembuatannya membutuhkan waktu yang
cukup lama, yaitu membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan, untuk mendapatkan satu warna saja.
Pemilik batik Sri Kuncoro
ini telah melakukan sebuah penelitian terhadap kulit dan daun dari pohon
Mahoni, beserta daun mangga. Membutuhkan 10kg dedaunan dan bahan-bahan lainnya,
untuk 1 meter kain. Woow!!, dan kain batik Sri Kuncoro ini menggunakan jenis
kain katun / sutra. Warna yang di hasilkan
pun jelas beda terlihat. Jika pemakaian warna dengan bahan sintetis, menghasilkan
warna yang jauh lebih mencolok, daripada menggunakan warna dengan bahan organik. Jika proses
pembuatan satu warna untuk batik ini membutuhkan waktu tiga bulan, bayangkan
saja jika pada satu batik memiliki berbagai macam warna. Sangat membutuhkan banyak waktu, tenaga, serta kesabaran yang sangat tinggi. Pewarnaan organik pada batik Sri Kuncoro biasanya maksimal hanya menggunakan 3
warna saja pada 1 item batik, dan ditempat ini juga tersedia mix and match bahan warna organik dan sintetis yang di gunakan
pada satu batik, ada juga yang menggunakan full bahan organik maupun
sintetis. Jadi tidak perlu kaget mengenai harga batik dengan bahan organik,
relatif 3x lipat lebih mahal dari bahan pewarnaan sintetis.
 |
| Mixing Staining |
Jika di tanya mengenai
keawetan warna dari batik ini, tentu pewarnaan organik jauh lebih awet dari bahan
pewarnaan sintetis, akan tetapi semua
tergantung pada pencucian yang di lakukan. Proses pencucian untuk
batik dengan pewarnaan organik ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Menggunakan Sabun
cuci, mesin cuci, ataupun mencuci secara manual (menggunakan tangan) akan
membuat warna batik memudar. Sebaiknya rendam saja dengan sabun lerak. Sabun
ini bisa kita dapatkan di tempat laundry / toko penjual kain atau baju batik.
Cukup di celup-celupkan saja, tidak perlu di kucek ataupun dengan mesin
cuci.
Nah… ini yang perlu
saya ketahui juga dari proses menghias batik Sri Kuncoro. Untuk Proses
penguncian warna agar awet yaitu, dengan menggunakan : Kapuk, Tunjung, dan
Indigong, dan pemberian warna lilin untuk membatik. Bagian menghias ini perlu keahlian, kesabaran dan ekstra hati-hati. Sebenarnya tertarik sekali aku buat mencoba menghias bati ini,
tapi rasa takut karena nantinya kalau sampai salah-salah, eman juga dengan bahan yang terbuang. Rasa keinginan aku untuk mencoba membatik, sedikit terbayar dengan melihat ibu-ibu yang
sedang mengukir batik Sri Kuncoro ini, sudah membuat aku excited banget!. Melihat
karya-karyanya yang mengangumkan, membuat aku bangga sekali menjadi orang
Indonesia. Alhasil aku mencoba membatik di rumah dengan pewarnaan sintetis. Ternyata
tidak mudah.. aaaahh!, jadi salut banget dengan pengerajin batik di indonesia. *Love*
I Love Batik, I Love Indonesia.
 |
| Penguncian warna agar awet |
 |
| Zoom out this "Drizzle Design" |
 |
| Theme of "Gerimis" or Drizzle |
 |
| Full Organic Colouring |
 |
| Staining with using Organic Matter |
Tema batik Sri Kuncoro
: Batik Tulis (menceritakan beberapa sejarah mataram dan beberapa makna fakta alam)
Lokasi : Giriloyo, Karangkulon, Barat Gasebo,
Imogiri, Kec.Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55782.
Comments
Post a Comment